Istilah Pekan Mode atau yang akrab disebut sebagai Fashion Week pasti sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat urban di Indonesia. Pagelaran ini merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelaku dan penikmat industri mode. Karena dalam acara inilah, para desainer tanah air akan mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karyanya ke hadapan khalayak umum.

Seiring dengan maraknya pagelaran fashion dengan label fashion week, yuk mengenal lebih jauh mengenai asal usul lahirnya acara tersebut. Berikut inspirasipagi merangkumnya untuk Anda.

Berawal dari nama Press Week

Ide pagelaran Fashion Week sendiri tercetus karena keterbatasan informasi tentang busana. Dulu, Paris merupakan pusat mode yang rajin mengadakan perhelatan mode di mana para desainer berbagai negara berkumpul. Tak heran Paris juga dikenal sebagai kiblat mode dunia. Namun kala Perang Dunia II, semua akses fashion pun tertutup. Fashion show yang seharusnya diselenggarakan di Paris dibatalkan sehubungan Nazi yang melarang jurnalis Amerika datang ke Prancis untuk meliput tren fashion di sana. Kemudian, hadirlah seorang desainer asalah New York bernama Eleanor Lambert yang melihat kesempatan besar untuk mempromosikan hasil karya desainer Amerika. Bersama seorang master planner, Ruth Finley, Lambert mengundang sederet desainer yang belum memiliki merek pribadi. Sebab kala itu, perancang mode Amerika memang masih di pandang sebelah mata.

eleanor lambert, fashion week, press week
Eleanor Lambert Sumber: http://www.famousfix.com/

Pada tahun 1943 ini menghelat pagelaran mode perdananya yang disebut Press Week. Ia mengundang awak media untuk datang ke acara tersebut di New York dan memberikan kemudahan bagi para jurnalis untuk melihat koleksi busana para desainer Amerika. Kesempatan tersebut merupakan momentum terbesar desainer Amerika untuk memamerkan karya-karya mereka ke seluruh dunia, meskipun rancangan mereka sangat berbeda dengan gaya rancangan desainer asal Paris.

Perhelatan Press Week tergolong sukses meskipun tidak mendapatkan banyak perhatian seperti halnya peragaan busana Paris. Pasalnya, kala itu publik dunia tengah sibuk dengan Perang Dunia II. Salah satu tanda kesuksesannya dibuktikan dengan kemunculan desain khas Amerika di majalah mode seperti Vogue.

Pada tahun 1944, untuk pertama kalinya Ruth Finely meluncurkan kalender fashion. Dia bertugas menyusun penyelenggaraan peragaan busana selama seminggu. Selama tiga dekade pagelaran busana selama seminggu itu terus diselenggarakan sebanyak dua kali dalam setahun (Februari dan September). Peristiwa itulah yang sekarang dikenal dengan nama New York Fashion Week.

Menjamurnya Fashion Week di Berbagai Negara

Kesuksesan Lambert mengangkat industri fashion di Amerika menginspirasi seorang aristokrat Italia, Giovanni Battista Giorgini untuk melakukan langkah serupa pada tahun 1952 di Palazzo Pitti, Florence. Dia pun meraup sukses dalam mengangkat industri fashion Italia sehingga tahun 1975 harus memindahkan penyelenggaraannya ke Milan guna mengakomodasi antusiasme orang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Pada tahun itu pulalah  untuk pertama kalinya diluncurkan kalender “Settimana Della Moda” (Fashion Week).

Penyelenggaraan fashion week mewabah di Eropa. Tahun 1961, British Fashion Council menggelar London Fashion Week untuk pertama kalinya. Dua tahun kemudian (1963) lahir Madrid Fashion Week dan Copenhagen Fashion Week. Di Asia, Jepang adalah negara pertama yang menyelenggarakan fashion week dengan nama Japan Fashion Week pada tahun 1985. Sampai tahun 2007 tercatat lebih dari 40 fashion week digelar di dunia, diantaranya Hongkong, Barcelona, Stockholm, Maroko, Mumbay, Los Angeles, dan Berlin. Hingga kini, kota-kota mode dunia seperti New York, London, Paris dan Milan terus konsisten menggelar fashion week setidaknya dua kali dalam satu tahun. Biasanya, fashion week diadakan pada Februari untuk menampilkan koleksi Spring/Summer dan September untuk koleksi Fall/Winter.

Perhelatan Berkelas yang Tak Murah

Perhelatan Fashion Week tentu melibatkan berbagai entitas seperti desainer, fashion stylist, model, make up  artist, hingga fotografer fashion. Tak main-main, untuk dapat bergabung dalam ajang ini, para pekerja harus mengantongi sertifikat profesional dan teruji.

Dalam perkembangannya kini, busana yang dipamerkan dalam ajang fashion show adalah busana ready-to-wear atau siap pakai dan haute couture yang keseluruhannya dikerjakan secara manual dengan tangan melalui proses yang rumit dan panjang.

new york fashion week
The spring 2009 Marc Jacobs collection is modeled at the finale of theshow during Fashion Week in New York, Monday, Sept. 8, 2008. (AP Photo/ Louis Lanzano ) Sumber: http://cironeswim.com

Sudah menjadi hal umum jika pagelaran fashion week seringkali digunakan para desainer untuk unjuk gigi dan menunjukkan eksistensinya sebagai seorang desainer. Berdasarkan datang yang diperoleh dari Time pada 2009 silam, rata-rata, desainer mengeluarkan biaya sekitar 40 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 540 juta untuk satu kali tampil di atas panggung peragaan pekan mode dunia.

Tentunya, angka ini bukanlah harga yang murah. Namun mengingat popularitas para desainer yang melesat bak roket setelah tampil di atas panggung runway, harga yang dibayarkan rasanya sebanding dengan apa yang didapat.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Share this:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here