5 Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang Mengena di Hati

0
114

Kabar duka kembali terdengar. Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan Indonesia dikabarkan menginggal pada Minggu, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB. Beliau mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Eka BDS, Tangerang.

Sapardi Djoko Damono merupakan sastrawan kebanggaan Indonesia. Meninggalnya beliau tentunya membuat para penikmat karyanya bersedih. Melalui puisinya, Sapardi Djoko Damono menceritakan hal-hal sederhana dan penuh makna. Tak heran jika karyanya begitu dicintai banyak orang, baik oleh para sastrawan sendiri maupun khalayak umum. Namun, ada beberapa puisi yang mengena dan popular di hati para penggemarnya. Berikut 5 puisi karya beliau yang berkesan di hati para penikmatnya:

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

Memungut detik demi detik

Merangkai seperti bunga

Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu.

Kita abadi

“Yang Fana Adalah Waktu” merupakan puisi Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan sajak Perahu Kertas (1988)

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

“Aku ingin” merupakan salah satu karya beliau yang terkenal dan popular bagi para penggemar. “Aku Ingin” juga sering dijadikan musikalisasi puisi saat acara sastra berlangsung. Puisi merupakan kumpulan puisi dalam buku “Hujan Bulan Juni”

Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar

Dan tak pernah kau lihat burung itu

Tapi tahu burung itu ada di sana

Hanya desir angin yang kau rasa

Dan tak pernah kau lihat angin itu

Tapi percaya angin itu di sekitarmu

Hanya doaku yang bergetar malam ini

Dan tak pernah kau lihat siapa aku

Tapi yakin aku ada dalam dirimu

Tak butuh kata bertele-telu dan rumit. Sapardi menuliskan kata sederhana, namun penuh makna di setiap puisinya.

Baca Juga: 7 Film Haruma Miura Buat Obati Rindumu

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakanya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu,

Tak ada yang kebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar

pohon bunga itu

“Hujan Bulan Juni” merupakan karya Sapardi yang popular. Kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” telah dialihbahasakan ke dalam empat bahasa seperti Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin. Puisi ini menceritakan tentang kesabaran dan ketabahan seseorang.

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

jasadku tak akan ada lagi,

tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,

suaraku tak terdengar lagi,

tapi di antara larik-larik sajak ini,

Kau akan tetap kusiasati,

pada suatu hari nanti,

impianku pun tak dikenal lagi,

namun di slea-sela huruf sajak ini,

kau tak akan letih-letihnya kucari

Melalu puisi ini, Sapardi ingin menyatakan jika ia akan tetap menulis. Layaknya sebuah wasiat, beliau ingin menyampaikan kepada penggemar bahwa beliau akan kekal bersama karya-karyanya.

Bagaimana Sahabat Inspirasi Pagi? Adakah puisi-puisi di atas yang jadi favorit kalian?

loading...