Code- switch, Fenomena Bahasa Anak JakSel

0
1280

Pasti kamu tahu postingan Wikipedia yang mengeluarkan cuitan tentang Jakarta Selatan dengan menggunakan Bahasa khas anak JakSel. Juga, berbagai macam kalimat ala anak Jaksel yang muncul di twitter. Bahasa ini memiliki karakteristik, yaitu menyisipkan kosakata Bahasa Inggris. Which is dan literally menjadi kosakata yang paling sering disisipkan dalam sebuah kalimat. Lalu, apakah hal ini berdampak buruk bagi eksistensi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris?

Indonesia sebagai negara multilingual

Sebagai warga negara Indonesia, kamu pasti dapat menggunakan lebih dari satu Bahasa. Setidaknya, kamu akan menguasai Bahasa Indonesia sebagai Bahasa resmi dan Bahasa daerah. Belum lagi kamu dituntut menguasai Bahasa Inggris untuk dapat berkomunikasi dengan warga lintas negara. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara multilingual. Tiap individu menguasai lebih dari satu bahasa sekaligus.  Lalu, bagaimana dengan fenomena Bahasa anak Jaksel yang mencampur adukkan Bahasa Indonesia dan Inggris?

Code- switch – Fenomena Bahasa anak Jaksel

Menurut sudut pandang sosiolinguistik, fenomena Bahasa anak Jaksel disebut sebagai code- switching atau tukar kode. Code- switch merupakan sebuah fenomena Bahasa yang mana dua bahasa atau lebih digunakan secara bergantian dengan maksud tertentu dalam sebuah konteks. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan identitas tertentu, status sosial, tendensi formalitas, dan hubungan antar penuturnya. Dalam bahasa anak Jaksel, bahasa Inggris yang disisipkan ke dalam sebuah kalimat ingin menunjukkan status sosial penutur yang lebih tinggi.  Terlebih, bahasa Inggris masih dipandang sebagai bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat kelas atas. Alhasil, anak Jaksel mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki status sosial dan tingkat edukasi yang tinggi.  Perlu diingat bahwa fenomena ini akan muncul jika susunan gramatikal  kedua bahasa sesuai. Dalam kasus ini, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris saling berterima sehingga code-switch dapat muncul.

Lantas, apakah code-switch merusak tatanan bahasa yang ada? Jawabannya jelas tidak, karena fenomena ini menjelaskan mengenai hubungan antara komunitas penutur dengan bahasa bukan merombak unsur-unsur gramatikalnya. Dengan begitu, kehadiran fenomena ini semakin memperjelas bagaimana keadaan sosial yang sedang berkembang saat ini.

Baca Juga:

#CrazyRichSurabayan kembali beraksi

Whatsapp tidak bisa digunakan?

 

 

loading...