Debt Trap Diplomacy Bukti ‘Soft Power’ China

0
33
China

Masih ingat dengan kasus Sri Lanka meminjamkan pelabuhan terbesarnya, Hambatota selama 99 tahun kepada China? Nah, ternyata bukan hanya Sri Lanka saja yang sudah terkena Debt Trap Diplomacy ini. Ada beberapa negara di Asia Pasifik yang mengalaminya.

Debt Trap Diplomacy

Debt Trap Diplomacy adalah istilah dalam akuntansi keuangan yang menggambarkan suatu kondisi anggaran di mana upaya untuk memperoleh pinjaman atau utang digunakan justru untuk menutup pembayaran utang. Suatu anggaran dikatakan ‘Debt Trap’ apabila selisih antara utang yang diterima dan cicilan pokok utang yang dibayarkan adalah negatif. 

Baca juga: Souvenir Unik Dari Embroidery Art

Ada dua komponen pembayaran atas utang luar negeri di dalam APBN, yaitu pembayaran bunga utang luar negeri dan pembayaran cicilan pokok utang di luar negeri. Sedangkan untuk komponen penerimaan dicatat pada pos penarikan pinjaman atau utang luar negeri.

Dalam kasusnya sendiri tercatat ada delapan negara yang diprediksi akan mengalami Debt Trap ini diantaranya yaitu Djibouti, Kyrgyzstan, Laos, Maldives, Mongolia, Montenegro, Pakistan, dan Tajikistan. Jika ditelusuri lebih dalam negara-negara tersebut merupakan negara kecil yang memiliki pendapatan per kapita yang rendah dengan permasalahan internal seperti terorisme atau kesenjangan sosial yang membutuhkan bantuan internasional namun seharusnya mereka tidak meminjam kepada China dimana hal tersebut merupakan perangkap. Memang China memberikan tawaran berupa infrastuktur yang murah, tetapi meskipun murah pinjaman ini sangat berbahaya jika suatu negara tidak dapat membayar pinjamannya.

Baca juga: Pilpres 2019 Dan Suara Millennial

Selain adanya penguasaan infrastuktur, China juga membuat pangkalan militer yang berada di Djibouti dimana di negara tersebut juga terdapat pangkalan militer milik Amerika. Hal ini membuat pemerintah Amerika geram dan Sekretaris Pemerintah Amerika, Rex Tillerson (6/03) membuat pernyataan bahwa Investasi China memang mendatangkan potensi untuk mengatasi kesenjangan infrastuktur di Afrika, tetapi pendekatannya menyebabkan peningkatan hutang dari negara tersebut.

Berbeda hal nya dengan Malaysia yang memutuskan untuk membatalkan proyek kerja sama dengan China karena Malaysia tidak dapat membayar utang yang akan ditanggung. Perdana menteri Malaysia juga menambahkan bahwa mereka tidak menginginkan adanya kolonialisme baru yang dilakukan oleh China. Dari beberapa kasus tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk negara-negara berkembang agar lebih berhati-hati dalam meminjam dana kepada pihak asing. Harus memperhitungkan konsekuensi jangka panjang yang akan ditimbulkan dari utang tersebut.

Baca juga: 5 Aplikasi Android Yang Bermanfaat Tapi Jarang Diketahui

loading...