Mencegah Bunuh Diri dengan Merasakan Terapi Kematian

0
115

Pernah mendengar depresi? Depresi merupakan gangguan suasana hati yang dapat mempengaruhi pola pikir, perasaan, dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Orang yang mengalami depresi biasanya merasa sedih, merasa tidak berharga, putus asa, dan menyalahkan diri sendiri. Perasaan ini terjadi paling tidak selama dua minggu. Adanya kesalahpahaman membuat orang-orang berpikir bahwa depresi adalah penyakit yang sepele. Tapi, pada kenyataannya depresi adalah penyakit serius yang dapat mengakibatkan bunuh diri.

Depresi juga merupakan salah satu hal yang membuat tingkat kematian di Korea Selatan meningkat. Seperti hasil survey yang dilakukan oleh WHO, Korea Selatan tercatat menempati peringkat ke-4 dari 183 negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia, dan penyebab yang paling besar dikarenakan adanya kegelisahan dan depresi.

Oleh karena itu, sebagai solusi untuk menekan tingkat kematian, salah satu klinik di Korea, Seoul Hyowon Healing Center, memberikan terapi yang dinamakan terapi kematian. Terapi tersebut bisa diikuti oleh berbagai macam kalangan, mulai dari anak remaja yang tertekan dengan sekolah mereka, orang tua yang diasingkan, atau orang tua yang takut akan beban keuangan dalam keluarga mereka.

Bagaimana sih terapi kematian itu? Pertama, para peserta mengganti baju mereka dengan jubah putih lalu duduk di dalam peti mati yang telah diletakkan sejajar. Di samping peti mati, terdapat meja dengan alat tulis dan kertas di atasnya untuk menuliskan pesan terakhir yang ditujukan kepada orang yang mereka tinggalkan nantinya. Setelah itu, para peserta harus mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Jeong Yong-mun, mantan pekerja pemakaman yang saat ini menjadi kepala pusat penyembuhan. Mereka diberikan nasihat untuk menerima masalah sebagai bagian dari kehidupan dan disarankan untuk mencari kebahagiaan mereka dalam situasi yang paling sulit.

Setelah mendengarkan ceramah, para peserta dipersilahkan berbaring kemudian peti ditutup selama 10 menit. Dalam waktu tersebut, peserta akan merasakan kegelapan dan kesendirian seperti rasanya menghadapi kematian. Setelah terapi selesai, beberapa dari peserta mengatakan bahwa mereka merasa segar dan beban pikiran pun juga menjadi ringan. Melihat tanggapan dari para peserta, Jeong Yong-mun pun menutup sesi terapi dengan kata-kata yang semakin membuat para peserta semangat dalam menjalani hidup.

Terapi kematian seperti yang dilakukan oleh klinik di Korea ini memang bukan yang pertama. Pembuat peti mati dari Ukraina, memberikan kesempatan kepada orang-orang yang ingin mencoba peti buatannya. Selain itu, klinik psikoterapi di China juga mengobati pasiennya dengan masalah psikologis melalui terapi kematian. Adanya terapi kematian ini diharapkan agar orang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri menjadi sadar dan mengurungkan niatnya sehingga lebih semangat dalam menjalani hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.