Perilisan Novel Kriminal “Pemburu Halimun”, Berburu Jawaban Dalam Kabut Yang Kelam Bersama Reza

0
290

Tanggal 28 Juli 2018, setelah fenomena gerhana bulan terlama di dunia berlalu, masih di hari yang sama pula terbitlah novel kriminal terbaru karya dari Mohammad Reza Wardhana yang berjudul “Pemburu Halimun”. Sesuai dengan fenomena langit tersebut, suatu fenomena terbitnya novel kriminal di Kota Surabaya merupakan hal yang langka.

Bercerita Tentang Pemburu Halimun

Novel yang diterbitkan secara indie ini bercerita tentang kasus-kasus pembunuhan di Kota Surabaya. Mulai dari kasus pembunuhan yang mayatnya berpindah jauh dari lokasi perkiraan pembunuhan, hingga kasus pembunuhan yang dibumbui dengan kecurigaan terhadap seorang kekasih. Semua kasus ini lantas dihadapkan ke seorang dosen muda bernama Hilbram Handaru yang sudah biasa diminta bantuan oleh polisi untuk mengungkap kasus-kasus yang pelik.

Foto oleh Ikhlasul Amal (@ikhlslml)

Saat menulis kisah tentang Hilbram ini, Reza menghabiskan waktu selama dua tahun lamanya. Salah satu pengalaman unik saat Reza melakukan riset untuk novel ini adalah saat dia berkeliling di sebuah kantor polisi. Dia bertanya pada semua anggota kepolisian disana mengenai deretan jabatan kepolisian, sampai akhirnya ada seorang ibu-ibu yang merupakan anggota kepolisian yang membagi sedikit rahasia dari deretan jabatan kepolisian saat itu dalam sebuah tautan internet.

Perilisan buku ini dibuka oleh Reza, dengan kisah awal jatuh cintanya dengan menulis. Kemudian perbincangan dilanjutkan dengan alasan mengapa dia memilih genre yang anti-mainstream ini. Semua ini bermula di saat Reza masih kanak-kanak, dia membaca berita pembunuhan pertamanya di sebuah surat kabar yang akhirnya membuat dia penasaran. Rasa penasaran akan kasus-kasus kriminal ini masih Reza simpan baik-baik dalam benaknya, bisa dibilang selalu ada insting detektif yang akhirnya ditumpahkan di novel kriminal ini.

Foto oleh Ikhlasul Amal (@ikhlslml)

Sebelum novel “Pemburu Halimun” ini selesai ditulis, ada kisah pahit yang masih membekas di hatinya. Awalnya, Reza sudah menuliskan sebuah novel yang bercerita tentang kisah masa lalu Hilbram di saat ia belum dipercaya oleh kepolisian Surabaya.

Namun, sayangnya naskah novel perdananya ini ditolak oleh penerbit mayor. Tidak lama berlarut-larut dalam kesedihan, kemudian Reza langsung merancang naskah novel keduanya yang kini telah terbit dengan judul “Pemburu Halimun”. Hebatnya lagi, Reza tidak lagi menunggu ada penerbit mayor, Reza membalik keadaan dengan menerbitkan novelnya sendiri lewat penerbit indie dengan nama “Dukut Publishing”

Di penghujung acara perilisan novel ini Reza menyampaikan sebuah kutipan yang menginspirasi, “Daripada menunggu kesempatan datang, lebih baik buatlah kesempatan sendiri.” Dari kisah penulisan novel Reza ini, mengubah sebuah kegagalan menjadi kesuksesan bukanlah kisah yang semu saja. Tentu kutipan ini bisa menjadi penyemangat untuk para insan-insan kreatif di Kota Surabaya untuk terus berkarya.

Foto oleh Ikhlasul Amal (@ikhlslml)

Akhir kata, mari tenggelam dalam sebuah kisah pembunuhan yang dipenuhi trik-trik yang di luar perkiraan masyarakat awam dalam kabut bersama Hilbram Handaru.

Baca artikel inspiratif lainnya:

Inijie Berbagi Delapan Resep Foto Makanan Yang Instagrammable

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.