Efisiensi Anggaran Memangkas Masa Depan Anak Muda Kreatif, Industri Event Jatim Tertekan dan Mulai Kurangi Karyawan

Author:

Category:

spot_imgspot_img

Backstagers Jatim mengingatkan bahwa tekanan terhadap industri event bukan hanya soal berkurangnya acara, tetapi juga menyempitnya ruang kerja, belajar, dan berkarya bagi generasi muda yang ingin berkontribusi di ekonomi kreatif

Forum Event Jawa Timur saat bersilaturahmi dengan Kadin Jawa Timur di Graha Kadin Jatim, Surabaya. Kunjungan ini diinisiasi oleh Backstagers DPD Jawa Timur.

Hingga 65% kinerja dan omzet
Terancam makin menyempit
Sekitar 1,2 juta orang
Turun hingga 60–70%

SURABAYA, 28 April 2026: Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pada 2026 mulai memberi dampak serius terhadap sektor ekonomi kreatif di Jawa Timur. Salah satu sektor yang paling terasa menerima tekanan adalah industri event management, yang selama ini menjadi ruang kerja, ruang belajar, sekaligus ruang tumbuh bagi banyak anak muda kreatif.

Di tengah situasi tersebut, perusahaan-perusahaan event tidak lagi berada pada fase ekspansi. Alih-alih menambah karyawan baru, banyak pelaku usaha justru harus mengurangi karyawan, merampingkan tim, dan menahan biaya operasional agar tetap bertahan. Kondisi ini membuat peluang generasi muda untuk masuk dan berkontribusi di industri event semakin terbatas.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kunjungan Forum Event Jawa Timur ke Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Senin (27/4/2026). Kunjungan yang diinisiasi oleh Backstagers DPD Jawa Timur itu diikuti lima asosiasi industri event, yaitu Forum Backstagers Indonesia Jatim, Ivendo Jatim, Asperapi Jatim, Rental Indonesia, dan Event Owners.

Backstagers Jatim menegaskan bahwa pihaknya sangat peduli dan mendukung penguatan sektor ekonomi kreatif. Namun, tekanan kebijakan efisiensi pada tahun 2026 dinilai berdampak negatif terhadap keberlangsungan industri kreatif, khususnya event management yang memiliki jejaring luas ke banyak sektor pendukung.

Ketika Industri Event Melemah, Anak Muda Kehilangan Panggung

Industri event selama ini menjadi salah satu pintu masuk bagi anak muda untuk belajar manajemen proyek, produksi kreatif, komunikasi, desain, dokumentasi, talent handling, hospitality, audio visual, hingga kepemimpinan lapangan. Banyak talenta muda tumbuh dari pengalaman langsung di balik penyelenggaraan event.

Namun, ketika kegiatan event berkurang dan perusahaan mulai mengurangi karyawan, jalur pembelajaran tersebut ikut menyempit. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh generasi muda yang sedang mencari ruang untuk masuk ke industri kreatif.

Berdasarkan data kuartal pertama 2026 yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, kinerja dan omzet industri event di Jawa Timur mengalami penurunan hingga 65 persen. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi industri bukan sekadar perlambatan biasa, melainkan kontraksi yang dapat memengaruhi masa depan ekosistem kreatif daerah.

Backstagers Jatim: Efisiensi Jangan Mematikan Ekosistem Kreatif

Ketua DPD Forum Backstagers Indonesia Jawa Timur, Lukman Sadaya, mengatakan bahwa penurunan kinerja industri event pada kuartal pertama 2026 sudah berada pada level yang mengkhawatirkan.

“Kuartal 1 ini penurunannya sampai 65 persen, baik dari kinerja maupun omzet. Ini angka yang sangat besar.” Lukman Sadaya, Ketua DPD Forum Backstagers Indonesia Jawa Timur

Lukman juga mengingatkan agar kondisi ini tidak kembali menyeret pelaku usaha event pada situasi seperti masa pandemi, ketika banyak perusahaan harus menjual aset dan sebagian pelaku industri menyerah.

“Jangan sampai di kuartal kedua nanti kami sampai menjual aset lagi seperti saat Covid. Waktu itu banyak yang menyerah dengan industri ini. Pasca Covid kami mulai punya napas baru, tapi dengan efisiensi ini napas kami kembali terengah-engah.” Lukman Sadaya

Salah satu tanda tekanan tersebut terlihat dari pengurangan tenaga kerja di perusahaan event. Jika dulu satu perusahaan bisa memiliki 20 sampai 25 karyawan in-house, kini rata-rata hanya tersisa 2 sampai 4 orang. Penurunan ini diperkirakan mencapai 60 sampai 70 persen.

Bagi Backstagers Jatim, kondisi tersebut menjadi alarm bagi masa depan ekonomi kreatif. Ketika perusahaan tidak lagi mampu menambah tim, kesempatan anak muda untuk mendapatkan pengalaman kerja, membangun portofolio, dan mengembangkan karier di industri event ikut terhambat.

Event Bukan Pemborosan, tapi Ruang Tumbuh Ekonomi Kreatif

Sekretaris Daerah Backstagers Jawa Timur, Toufan Widhi Hatmoko, menegaskan bahwa pekerja event bukan sekadar tenaga informal. Menurutnya, banyak profesi di industri event membutuhkan keahlian khusus, kedisiplinan, kreativitas, manajemen risiko, dan kemampuan bekerja dalam tekanan tinggi.

“Kami ini bukan hanya tenaga informal, tapi tenaga ahli. Event juga bukan pemborosan, tapi punya dampak ekonomi besar dengan multiplier effect yang luas.” Toufan Widhi Hatmoko, Sekretaris Daerah Backstagers Jawa Timur

Toufan menilai cara pandang terhadap event perlu diperluas. Event bukan semata pengeluaran, tetapi ruang tumbuh bagi ekonomi kreatif. Di dalam satu event, terdapat perputaran kerja dan transaksi yang melibatkan perhotelan, transportasi, makanan dan minuman, UMKM, talent, desain, dekorasi, rental, produksi teknis, hingga pekerja lepas.

Berdasarkan data 2025 yang dipaparkan dalam forum tersebut, sekitar 1,2 juta tenaga kerja di Jawa Timur menggantungkan hidup pada industri event dan sektor turunannya. Dengan angka sebesar itu, tekanan terhadap industri event juga berarti tekanan terhadap penghidupan banyak keluarga dan masa depan banyak talenta muda.

Ivendo Jatim Soroti KBLI dan Roadmap Industri

Ketua DPD Industri Event Indonesia atau Ivendo Jatim, Eko Febri, menyoroti persoalan klasifikasi usaha yang masih belum jelas. Menurutnya, pelaku industri event masih menghadapi kebingungan dalam menentukan induk usaha, terutama terkait KBLI dan kategori pada aplikasi procurement.

“KBLI sampai sekarang kami masih bingung mau menginduk ke mana dengan aturan yang baru. Di aplikasi procurement, kategori kami juga masih bias.” Eko Febri, Ketua DPD Industri Event Indonesia Jatim

Eko menekankan pentingnya kepastian roadmap industri ke depan. Kejelasan ini dibutuhkan agar industri event tidak terus berada di wilayah abu-abu, baik dalam administrasi, pengadaan, standar usaha, maupun pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Bagi generasi muda yang ingin masuk ke industri kreatif, roadmap yang jelas juga menjadi penting. Tanpa kejelasan arah industri, peluang karier, standar kompetensi, dan jalur pengembangan profesional akan sulit dibangun secara berkelanjutan.

Kadin Jatim Siapkan Pernyataan Resmi

Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menilai industri event dan MICE memiliki peran strategis dalam perekonomian. Ia menegaskan bahwa sektor ini tidak semestinya dimasukkan ke dalam anggaran yang diefisiensi karena mendukung banyak sektor, termasuk UMKM.

Adik juga menyebut pengurangan anggaran saat ini mencapai sekitar 60 persen di berbagai level pemerintahan. Ia mendorong pelaku industri event untuk mengikuti perkembangan global dan nasional, termasuk fokus pemerintah pada pangan, energi, green economy, pengembangan SDM, digital, dan kreativitas.

Kadin Jawa Timur juga mendorong pelaku Industri Kreatif menyusun proposal yang lebih profesional dan terukur. Proposal kegiatan diharapkan mampu menunjukkan potensi transaksi, dampak turunan, serta kontribusi ekonomi yang dapat meyakinkan pemerintah.

Sebagai tindak lanjut, Kadin Jawa Timur akan menyusun pernyataan resmi untuk menjelaskan bahwa Industri Event dan MICE masih sangat dibutuhkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah ini disambut positif oleh Backstagers Jatim dan asosiasi Industri Kreatif lainnya.

Menjaga Masa Depan Ekonomi Kreatif

Kunjungan Forum Event Jawa Timur ke Kadin Jatim menjadi pengingat bahwa kebijakan efisiensi perlu melihat dampak yang lebih luas. Penghematan anggaran memang penting, tetapi tidak boleh sampai mematikan ruang kerja kreatif, melemahkan perusahaan, dan memangkas kesempatan anak muda untuk tumbuh di industri event.

Backstagers DPD Jatim berharap pemerintah dapat menjalankan efisiensi secara lebih proporsional dengan mempertimbangkan kontribusi ekonomi kreatif, besarnya tenaga kerja yang terlibat, dan dampak jangka panjang terhadap masa depan generasi muda di Jawa Timur.

spot_img

Read More

Related Articles