Kisah Dibalik Lagu “Hari Lebaran” – Ternyata Nyindir!

“Minal aidzin wal faizin, maafkan lahir dan batin, selamat para pemimpin~" lah kok yang diselamatin pemimpinnya?

0
187
Kisah Dibalik Lagu

Hari lebaran memang sudah lewat, namun tinggal satu : tradisi Halal Bihalal. Biasanya, saat Halal Bihalal, sobat akan mendengar lagu “Hari Lebaran” diputar. Nah, sebenarnya, lagu ini merupakan lagu sindiran, loh! Yuk, simak kisah dibalik lagu “Hari Lebaran”!

“Minal Aidin wal Faizin,

Maafkan Lahir dan Batin,

Selamat Para Pemimpin,

Rakyatnya makmur terjamin”.

Tahu lirik lagu di atas kan? Tentu, itu adalah refrain lagu “Hari Lebaran” karya Ismail Marzuki. Kini, lagu ini sudah jadi “lagu wajib” saat diputar Halal Bihalal, baik saat Halal Bihalal temu saudara sampai kolega kantor. Namun, gara-gara lagu satu ini, semuanya jadi salah kaprah… atau bukan? atau apa ya?

  1. Minal Aidzin itu… maaf lahir dan batin?

Kisah Dibalik Lagu "Hari Lebaran" - Ternyata Nyindir!
Sumber : Tirto

Jawabannya, bukan. “Minal Aidzin” itu bukan berarti maaf lahir batin. Bahkan, coba kamu ke Arab, mereka malah nggak ngerti kamu ngomong apa, deh. Menurut anggota komisi fatwa MUI, Arwani Faishal, arti “Minal Aidzin wal faizin” adalah “semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke jalan yang benar (jalan Allah) dan termasuk jadi orang yang beruntung atau berbahagia. Doanya bagus banget, kan? Maka dari itu, perkataan ini jadi populer diucapkan saat Idul Fitri.

Menurut Arwani Faishal, anggota komisi fatwa MUI, ”Minal aidin wal faizin berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke jalan yang benar atau ke jalan Allah dan termasuk orang yang beruntung atau berbahagia’.” Karena memiliki arti yang indah, istilah itu jadi populer untuk dikatakan saat Idul Fitri. Tapi, juga gara-gara lagu ini nih, jadinya orang-orang ngira “Minal aidzin” itu arti harfiahnya “Maaf Lahir dan Batin”, jengjeng.

2. Kuncinya ada di lirik bagian ketiga

Jarang banyak orang tahu kalau sebenarnya ada bagian ketiga. Ismail Marzuki, dengan kemampuan verbalnya, ia menggambarkan fenomena sosial dengan gaya Betawi :

“Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik terem listrik perei
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe
Kakinya pade lecet babak belur berabe

Maafkan lahir dan batin, ulang taon idup prihatin
Cari uang jangan bingungin, bulan Syawal kita ngawinin
Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai buat berjudi
Sehari semalam main ceki mabuk brandi
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate
Si penjudi mateng biru dirangsang si istri

Maafkan lahir dan batin, ‘lan  taon idup prihatin
Kondangan boleh kurangin, kurupsi jangan kerjain”

Tentu, Ismail “nyindir” fenomena orang kampung yang merayakannya. Dari jalan-jalan hingga “kaki pincang”, “lecet babak belur berabe”. Lalu, ia melanjutkan ke kebiasaan orang kota yang berjudi, mabuk Brandi, main pukul Istri, dan sebagainya. Lalu, paling akhir : “kondangan boleh kurangin, korupsi jangan kerjain”.

Wih. Bagus, kan?

 

3. Lagu sindiran

Lagu ini memang termasuk lagu sindiran. Dalam buku Musik Indonesia dan Permasalahannya (JA Dungga dan L Manik, 1952), Denny Sakrie mengungkapkan bahwa ada empat lagu di era revolusi dan salah satunya adalah lagu-lagu yang menggambarkan bagaimana keburukan masyarakat Indonesia di masa perjuangan. Lagu ini termasuk salah satunya, apalagi saat bait : “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”.

Udah nggak apa-apa ikut nyanyi kalau lagu ini diputar. Nyanyiin aja sampai kita benar-benar makmur terjamin, deh, hehehe.

 

Baca juga:

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.