Kebersamaan Umat Kristiani di Bulan Desember

0
165
kristiani

Bulan Desember selalu hadir membawa kebahagiaan, selalu menjadi bulan yang paling ditunggu oleh banyak orang, terutama umat Kristiani. Sebab di bulan penutup tahun ini, ada Hari Natal yang membawa keceriaan bagi semua orang.

Nggak heran kalau persiapan merayakannya pun sudah dilakukan sejak minggu pertama, mulai dari membeli atau membuka kembali kumpulan hiasan pohon cemara, menghias ruangan dengan nuansa hijau dan merah, serta hawa libur panjang akhir tahun yang sudah terasa.

Sebagai negeri yang kaya budaya serta tradisi, Hari Natal yang khidmat pun dirayakan dengan cara yang beragam, lho! Semua tergantung pada daerah tempat perayaannya. Ini beberapa tradisi Natal unik yang berlangsung di Indonesia.

Baca juga: Tentang Kebaya, Pakaian Adat Indonesia : Dulu dan Kini

  1. Wayang Kulit di Yogjakarta

kristiani

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap hari besar keagamaan selalu dirayakan dengan seni tradisional, nggak terkecuali dengan Natal. Pada saat perayaan Natal, Pastur atau Romo akan memimpin ibadah menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil dan mengenakan pakaian khas Yogyakarta seperti beskap atau blangkon.

Lalu untuk memeriahkan hari Natal, ada pementasan wayang kulit yang digelar dengan tema “Kelahiran Yesus Kristus”. Selain itu, para penduduknya pun akan saling berkunjung ke rumah saudara untuk bertemu dan berkumpul bersama menikmati waktu bahagia itu.

  1. Ngejot dan Penjot di Bali
kristiani
Di Pulau Dewata, masyarakat yang merayakan Natal akan melakukan Ngejot, yakni memberi bingkisan pada tetangga terutama pada mereka yang bukan termasuk umat Kristiani. Isi bingkisan umumnya makanan khas tradisional seperti lawar atau sate babi.
Tapi jika yang menerima nggak dapat menyantap sate itu, dapat diganti dengan makanan lainnya. Selain itu, masyarakat Kristiani juga akan memasang Penjor, yaitu hiasan janur kuning, pada gereja dan rumah-rumah. Lalu pada saat merayakan Natal di gereja, masyarakat akan menggunakan pakaian adat Bali berwarna putih-hitam.
  1. Meriam Bambu di Flores

kristiani

Bergeser ke Flores, masyarakat daerah itu yang merayakan Natal akan membunyikan meriam bambu. Pada malam tanggal 24 Desember, malam di Flores akan ramai dengan suara dentuman meriam bambu di seluruh sudut kota. Awalnya menurut budaya Manggarai dan Flores, meriam bambu digunakan sebagai pemberitahuan kabar wafatnya tokoh masyarakat.

Namun belakangan ini, benda itu menjadi ungkapan kegembiraan atas lahirnya Yesus Kristus. Meriam Bambu ini juga akan berdentum selama masa Adven, dan dari Natal sampai tahun baru. Selain itu, pihak Pastoral juga akan mengadakan kompetisi membuat “Kandang Natal”. Kegiatan ini memiliki makna agar masyarakat menggingat kalau Yesus Kristus lahir di kandang yang sangat sederhana.

  1. Barapen di Papua

kristiani

Setelah merayakan ibadah Natal, masyarakat Papua akan melakukan Barapen atau tradisi bakar batu. Ini adalah cara masyarakat setempat untuk memasak saat Natal. Selain itu, Barapen juga menjadi ajang ungkapan rasa syukur dan kebersamaan masyarakat Papua. Selain itu, suasana pun akan terasa lebih ramai karena lagu Natal pun turut diputar selama 24 jam.

Baca juga: Mengenal Kebaya Encim, si ikon Betawi

  1. Lovely December dan Lettoan di Toraja

kristiani

Di Toraja, Sulawesi Selatan, ada acara tahunan bernama Lovely December yang menjadi rangkaian acara perayaan Natal. Dalam acara ini, ada berbagai kegiatan serta perlombaan yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat, baik Kristiani maupun umat agama lain. Dengan kata lain, ini terbuka dan dapat dinikmati khalayak umum! Lovely December dibuka dengan pemotongan kerbau belang pada awal Desember, kemudian ditutup dengan proses Lettoan, yaitu mengarak babi sebagai simbol tiga dimensi kehidupan manusia.

  1. Kunci Taon di Manado

kristiani

Kalau kebanyakan orang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, masyarakat di Manado merayakannya mulai tanggal 1 Desember. Dari awal bulan, masyarakat melaksanakan ibadah pra-natal di berbagai gereja, memutar lagu-lagu Natal di berbagai sudut kota, serta mengadakan pawai sinterklas.

Pada pawai ini, para pemuda akan mengunjungi rumah-rumah untuk memberikan hadiah dan nasihat pada anak-anak yang dijumpai. Puncak acara ini jatuh pada tanggal 25 Desember. Namun setelahnya, perayaan masih berlanjut hingga minggu pertama bulan Januari.

Pada minggu tersebut, masyarakat Manado akan melakukan tradisi Kunci Taon atau Kuncikan. Selama satu minggu penuh, akan berlangsung pawai dengan kostum unik untuk menghibur masyarakat sekitar.

Baca juga: Inilah Kuliner Khas Banyuwangi yang Harus Kamu Coba!

  1. Marbinda di Sumatera Utara

kristiani

Natal di tanah Sumatera Utara dirayakan dengan tradisi Marbinda. Dalam melaksanakan tradisi ini, masyarakat setempat mengumpulkan uang untuk membeli hewan yang akan dikurbankan. Pilihannya bisa berupa sapi atau kerbau, terkadang babi. Setelah melakukan penyembelihan, hasil daging itu akan diberikan sama rata pada warga yang berpartisipasi.

  1. Rabo-rabo di Jakarta

kristiani

Jakarta pun memiliki tradisi unik untuk merayakan Natal, loh! Tepatnya di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara masyarakat Kristiani akan melakukan Natal Rabo Rabo. Konon, perayaaan ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun, diwariskan oleh orang Portugis yang dulu sempat menjejakkan kaki di tanah Batavia.

Pada tradisi ini, masyarakat akan saling berkunjung ke rumah tetangga usai ibadah di gereja. Uniknya, penghuni rumah yang baru saja dikunjungi harus masuk ke dalam rombongan untuk ikut mengunjungi rumah selanjutnya.

Kemudian di penghujung acara, setiap orang akan mendapatkan beda waran-warni yang akan ditorehkan ke wajahnya. Bedak ini diyakini sebagai simbol penebusan dosa dan saling memaafkan di penghujung tahun yang akan berakhir.

Apa daerah tempatmu tinggal memiliki tradisi unik untuk merayakan Natal, sahabat pagi? Perayaan Natal yang meriah di berbagai daerah ini juga menjadi daya tarik untuk berwisata ke sana di akhir tahun, lho. Tertarik menghabiskan malam Natal sampai tahun baru di daerah lain?

loading...