Tips Mengatasi Fase GTM pada Sang Buah Hati

0
143
GTM, gerakan tutup mulut
Sumber: https://www.mpasi.org

Menjadi seorang ibu tentu akan menjadi sebuah fase yang indah bagi kaum hawa. Namun, fase kehidupan yang satu ini juga tak luput dari tugas dan tanggung jawab khususnya dalam mengasuh serta menemani si kecil di setiap tahapan tumbuh kembangnya.

Banyak ibu-ibu terutama para ibu muda yang kerap kali mengeluhkan permasalahan dalam mengurus buah hati, salah satunya adalah ketika sang anak mengalami GTM. Fase ini sering menjadi momok bagi ibu-ibu. Nah, sebenarnya apa sih GTM? GTM alias Gerakan Tutup Mulut adalah kondisi dimana si kecil menolak semua makanan yang disodorkan padanya, bahkan termasuk makanan favoritnya. Aksi penolakan yang biasa dilakukan si kecil saat GTM sangat bervariasi, misalnya saja, membuang makanan setelah disuapi (dilepeh), menepis suapan ibu atau siapapun yang menyuapi hingga bermain-main dengan makanan tanpa memakan makanan tersebut.

Kalau sudah begini, pasti membuat momies jadi sedih dan pusing tujuh keliling. Hal ini pula yang kini sedang dialami oleh artis cantik Putri Titian. Melalui akun instagramnya @putrititian, ibu muda itu meluapkan kegundahan hatinya saat sang buah hati, Iori, mengalami GTM.

GTM, gerakan tutup mulut
Sumber: https://www.instagram.com/putrititian/

“Hampir semua cara sudah dilakukan, makan sambil nonton youtube, makan sendiri, naik turun tekstur, masak tiap hari ganti menu, cari tahu makanan yang dia suka. Kalau sudah enggak mau makan ya enggak mau titik,” ungkap istri Junior Liem itu.

Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu GTM hingga bagaimana cara mengatasinya, berikut inspirasipagi merangkum informasinya untuk Anda:

Fase Alamiah

Apakah ibu-ibu mempunyai pengalaman menghadapi si kecil yang GTM? Tak perlu khawatir secara berlebihan ya momies! Faktanya, GTM merupakan fase yang wajar dialami oleh anak usia 0-3 tahun. Karena dalam kurun usia itu, anak masih dalam tahap belajar tentang konsep makan dan belum mengerti konsep waktu makan.

Umumnya, GTM dialami oleh anak di bawah usia 1 tahun. Pada usia tersebut, anak dalam proses belajar dan mencerna makanan karena adanya pergantian tekstur. Terutama bagi bayi 6 bulan yang mulai belajar makan, dari semula yang hanya mengkonsumsi ASI atau susu formula, kemudian beralih mengkonsumsi makanan yang teksturnya lebih padat. Tentu aja, ini membutuhkan proses penyesuaian.

Rasa dan Tekstur Makanan

Bayi yang sudah merasakan variasi makanan, cepat atau lambat biasanya akan mulai selektif dengan rasa makanan yang dikonsumsinya. Apabila ia menyukai makanan dengan rasa manis, maka ia akan cenderung menolak jika diberikan makanan dengan varian rasa lain, misalnya saja rasa asin/gurih. Disisi lain, terlalu cepat mengubah atau menaikkan tekstur makanan juga bisa membuat si kecil malas mengunyah hingga pada akhirnya berujung dengan GTM. Ada baiknya jika ibu-ibu mengawalinya dengan memberikan makanan yang memiliki tekstur lembut agar memudahkan si kecil dalam mengunyah. Bubur, misalnya. Anda bisa membuatkan bubur yang disesuaikan dengan rasa favorit si kecil. Anda juga bisa membuatkan bubur ayam agar kebutuhan protein harian si kecil dapat terpenuhi.

Tumbuh Gigi

Memberikan makanan pada anak saat ia sedang tumbuh gigi terkadang menjadi tantangan tersediri. Fase ini terjadi pada bayi usia 4 sampai 7 bulan di mana gigi pertamanya mulai tumbuh. Nyeri pada gusi yang dirasakan saat si kecil tumbuh gigi akan membuatnya menjadi susah menerima makanan yang diberikan padanya, bahkan makanan yang menjadi favoritnya. Karena itulah pada fase ini, kerap kali si kecil menjadi malas untuk mengunyah.

Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat memberikan makanan camilan yang keras seperti wortel, biskuit atau mentimun yang sudah didinginkan. Hal ini dapat menjadi opsi untuk meringankan nyeri gusi yang dialami oleh anak GTM karena tumbuh gigi. Teksturnya yang keras akan membantu meredakan nyeri gusi, sedangkan tujuan pendinginan yaitu memberikan anti nyeri atau analgetik secara alami. Namun, hal terpenting yang harus Anda perhatikan adalah mendampingi si kecil saat mengkonsumsi makanan padatnya. Karena apabila Anda meninggalkan si anak makan sendirian atau tanpa pengawasan, hal yang dikhawatirkan adalah potensi anak  yang dapat tersedak.

Memberikan Susu

Apabila Anda sudah memberikan makan pada si kecil namun makanan tersebut tidak habis, maka Anda bisa menghentikannya. Hal ini bertujuan agar anak tidak merasa trauma karena dipaksa makan terus menerus. Jika mommies khawatir si kecil belum kenyang, memberikan susu dapat menjadi alternatif. Anda bisa memberikan susu 30-60 menit setelah makan. Susu akan membuat di kecil tidak kekurangan nutrisi karena kandungan nutrisinya yang lengkap. Sehingga jika si kecil melakukan aksi GTM, ia tak akan merasa lapar dan perkembangannya pun tak akan terganggu.

Baca juga:

Baby Led Weaning, Alternatif Makanan Pendamping Asi

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.