Sexting Sama Dengan Tanda Cinta?

0
803
cinta

Sexting Sama Dengan tanda Cinta?-Sexting dimaknai sebagai sex messaging atau seks melalui pesan singkat. Setelah sempat menghilang, istilah ini kembali muncul setelah The National Campaign and Unplanned Pregnancy bersama Cosmogirl.com mengadakan survei di tahun 2008 tentang tren bertukar foto dan teks vulgar antar remaja, seperti yang ditulis dalam The Atlantic.

Sexting sebagai produksi dan distribusi gambar secara eksplisit yang mengandung seksualitas melalui teknologi komunikasi. Namun, sexting kini nggak sebatas gambar, tapi juga teks serta video.

Baca juga: Serba-serbi Si Perfect Micellar Water

  1. . Siapa yang melakukannya?

Saling mengirim gambar dan kata-kata berbau seksual sebenarnya bisa menjadi “bumbu” dalam hubungan suami istri. Bagi pasangan yang sudah menikah, hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas, salah satunya yaitu sexting, masuk dalam komponen passion. Sexting pun dianggap wajar dilakukan oleh pasangan yang sudah berkomitmen untuk membangkitkan semangat dan gairah dalam hubungan mereka.

cinta

Sayangnya, sexting bukan hanya dilakukan oleh pasangan resmi, tapi juga mereka yang masih menjalin hubungan tingkat pacaran, bahkan orang yang baru dikenalnya di dunia maya. Sexting dilakukan baik dengan pasangan tetap atau nggak tetap. Maka dari itu, sexting dipandang sebagai permulaan sebelum melakukan hubungan seksual yang sesungguhnya dengan pasangan nggak tetap.

Baca juga: Sextortion, Ini Bahayanya dan Cara Menghadapinya

2. Apa yang dicari lewat sexting?

cinta

Rupanya, sexting bukan hanya soal kepuasan. Laki-laki (remaja dan dewasa) lebih mudah melakukan sexting ketimbang perempuan. Hal itu menyangkut pada harga diri yang dimiliki laki-laki. Semakin banyak memiliki pasangan sexting maka laki-laki cenderung merasa memiliki harga diri yang lebih baik. Sedangkan perempuan cenderung lebih sulit melakukan sexting karena perempuan membutuhkan komitmen dan rasa aman dalam hubungan sebelum melakukan sexting.

3. Risiko yang mengintai

Rasa aman yang dibutuhkan perempuan erat kaitannya dengan aktivitas sexting yang menyimpan banyak risiko apalagi jika hal tersebut dilakukan secara terpaksa sebagai “bukti sayang”. Aktivitas sexting mengandalkan koneksi internet dan teknologi. Inez selaku psikolog juga memberikan risiko yang akan dihadapi pelaku sexting.

Ketika seseorang melakukan sexting, maka diam-diam teknologi yang kita punya menyimpan jejak tersebut. Menghapus chat, foto atau video berbau seksual dari smartphone belum tentu berarti aman.

Baca juga: Penyebab Jerawat Selalu Muncul Ditempat Yang Sama

Fakta “horor” tersebut nggak berhenti sampai di situ. Meski kini sudah ada beberapa aplikasi yang secara otomatis menghapus data yang pernah dimuat, namun pelaku yang memiliki niat terselubung bisa mengabadikan data pribadi tersebut dengan cara screenshot. Jika foto-foto intim tersebut tersebar, maka bisa menimbulkan dampak psikologis.

4. Sexting sama dengan tanda cinta?

cinta

Di pergaulan yang semakin bebas ini, nggak sedikit orang yang baru bertemu di internet, atau sepasang kekasih, yang bertukar foto vulgar sebagai ekspresi cinta. Bahkan, ada pula yang memaksa pasangannya untuk mengirimkan foto sebagai bukti cinta. Padahal, sexting merupakan hal yang bisa dilakukan tanpa perasaan atau komitmen karena sexting didorong oleh hasrat seksual untuk mencapai kepuasan dan memenuhi fantasi. Berbagi informasi pribadi kepada orang lain, apalagi melalui internet, akan sangat berisiko. Kita nggak pernah tahu maksud tersembunyi dari orang yang berinteraksi dengan kita. Bukan hanya disalahgunakan, bisa jadi foto tersebut hanya dijadikan sebagai koleksi yang bakal dibangga-banggakan kepada teman-temannya untuk meningkatkan harga diri di lingkungan sosialnya.

Daripada menyesal di kemudian hari, lebih baik mulai lebih berhati-hati saat menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

loading...