Pesan Penting untuk Seorang Wanita Karir

0
229
working mom, full time mom, mengasuh anak. wanita karir
Happy Mother with Daughter using Laptop at home

Ketika sudah memutuskan untuk berkeluarga, perempuan kerap kali dihadapkan pada pilihan yang dilematis antara menjadi full time mom atau working mom. Disatu sisi ada perempuan yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Artinya, mereka akan memikul segala tanggung jawab atas pengelolaan rumah, mengasuh anak hingga memasak. Namun, disisi lain, ada pula perempuan yang memutuskan untuk menjadi seorang wanita karir, yang tidak saja bergelut dengan tanggung jawab di rumah tetapi juga mengemban tanggung jawab untuk bekerja disebuah perusahaan guna menambah pundi-pundi pemasukan keluarga.

Dari kedua pilihan tersebut, tentu masing-masing mempunyai sisi positif maupun negatif. Seorang working mom atau ibu bekerja memang punya lebih sedikit waktu untuk anak, tapi ia bisa memberikan sumbangsih bagi pemenuhan kebutuhan keluarga. Namun di sisi lain, seorang psikoterapis mengingatkan para ibu bekerja agar menyisihkan waktu lebih banyak untuk anak dalam sehari atau anak bakal mengalami masalah mental.

Dalam sebuah video, psikoterapis Erica Komisar melihat fenomena gangguan mental pada anak-anak. Gangguan mental ini jadi epidemi alias penyakit. Psikoterapis yang juga seorang penulis ini menjelaskan, bahwa bayi mengalami mengalami peningkatan hormon kortisol saat mereka ditinggal sang ibu untuk bekerja. Hormon kortisol adalah hormon yang berkaitan erat dengan tingkat stres.

Menurutnya, seorang ibu bekerja yang pulang malam hanya punya sedikit waktu bersama anak jelang waktu tidur mereka. Waktu selama sekitar 90 menit dirasa tak cukup. Jika ibu pulang sekitar pukul 18:00 maka, ia hanya punya 90 menit untuk bersama anak dan membawa anak tidur di pukul 19:30. Akibatnya, para ibu kerap menemukan anak tidak langsung tidur dan malah mencari perhatian sang ibu.

“Masyarakat kita mengatakan pada para ibu untuk kembali bekerja, lakukan apa yang kamu mau, mereka akan baik-baik saja, tapi mereka nyatanya tak baik-baik saja,” kata Erica.

Erica sendiri melihat hal ini dari anak-anak yang didiagnosa dan menjalani terapi dalam usia yan begitu muda. Ia pun mencari riset yang mampu menjelaskan fenomena yang ia hadapi. Hasilnya, absennya seorang ibu dalam hidup anak sehari-hari memang mempengaruhi kesehatan mental mereka.

Erica sama sekali tak menyalahkan ibu yang memilih untuk kembali bekerja setelah memiliki anak. Ia memberikan strategi yang bisa dijalankan ibu bekerja demi menjaga kesehatan mental sang buah hati.

Pertama, fokus pada anak saat kembali ke rumah. Tak bisa dimungkiri jika kadang beban atau stres pekerjaan terbawa sampai ke rumah. Namun setidaknya sediakan diri full untuk anak. Erica mengingatkan agar ibu menyimpan semua gawai atau segala hal yang bisa mengganggu kebersamaan dengan anak.

Kedua, ibu sebaiknya bersama dengan anak sepanjang malam daripada pulang pukul 18.00 dan membawa mereka tidur di 19:30. Menurutnya, 90 menit tidaklah cukup.

“Biarkan mereka bersama anda lebih lama. 90 menit tidak cukup untuk menurunkan stres, membuat anak merasa aman secara emosional dan mengatur emosi mereka,” tambahnya.

Sementara itu, daycare atau penitipan anak memang tak jarang jadi pilihan ibu bekerja. Namun, membawa anak kecil dalam lingkungan baru, penuh dengan stimulan sekaligus ketakutan yang besar bakal jadi tantangan besar buat anak.

“Saat kamu mengambil mereka dari lingkungan yang sedang dan kemudian meletakkan mereka dalam kelompok yang penuh dengan stimulasi dan banyak orang yang bukan lingkungan alami mereka. Saya bilang daycare adalah pilihan terakhir,” katanya.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.