Melestarikan Budaya Suku Aborigin Lewat Fashion Yang Memukau

0
217
Foto oleh Febhana Nocha

Claire Summers, seorang executive director dari Darwin Aboriginal Art Fair mempresentasikan koleksi fashion yang terinspirasi dari Suku Aborigin asal Australia. Koleksi fashion tersebut sukses melenggang di pagelaran fashion yang ternama di Indonesia, yaitu Jakarta Fashion Week 2018. Menariknya lagi, koleksi fashion tersebut juga berkolaborasi dengan koleksi Batik asal Indonesia. Dua indigenious fashion berkelas dunia dipertemukan dalam satu panggung catwalk.

Setelah sukses dengan pagelaran fashion di Jakarta, Claire digandeng oleh Konsulat Jendral Australia bersama dengan Centre For Creative Heritage Studies dari Universitas Ciputra untuk menyempatkan diri berbagi pengalamannya tersebut. Tidak lupa juga, Claire menampilkan empat busana dari koleksinya lewat empat model cantik dari Indonesia.

Betapa menariknya menyimak cerita Claire mengenai bagaimana koleksi fashion ini merupakan salah satu cara kekinian untuk mempertahankan budaya dan tradisi kesenian dari suku Aborigin melalui media tekstil. Koleksi fashion yang diusung jauh-jauh dari Australia in berasal dari empat designer yang memiliki ceritanya masing-masing.

Foto oleh Febhana Nocha

Salah satu koleksi menampilkan kalung dan anting yang dibuat dari jala nelayan yang sudah rusak, kemudian juga aksesoris bulu dari burung emu, hingga motif pakaian yang terinspirasi dari aliran sungai yang dekat dengan tempat seniman tersebut tinggal. Begitu banyak hal-hal kecil yang menjadikan koleksi fashion ini menjadi bermakna.

Baca juga: Peran Konsultan Digital Marketing di Era Digital

Cerita-cerita tentang Suku Aborigin yang diketahui masyarakat awam kini tidak melulu tentang boomerang saja, melainkan dari koleksi fashionnya yang berwarna-warni dan penuh dengan kearifan lokal. Bahkan, Claire juga sempat bercerita bahwa suku Aborigin juga terinspirasi oleh Batik saat pertama kali dipertemukan pada tahun 1970 di Australia. Bisa dibayangkan, ke depannya peluang untuk kedua negara, Indonesia dan Australia, bisa berkolaborasi bersama di berbagai bidang kreatif.

Foto oleh Febhana Nocha

Michael N. Kurniawan, sebagai ketua dari Centre For Creative Heritage Studies juga menambahkan, “ada sebuah proses glokalisasi yang kini menjadi upaya untuk melestarikan tradisi dan budaya yang ada di dunia, salah satunya adalah bagaimana mengangkat budaya dari Suku Aborigin lewat koleksi fashion.” Melalui Centre For Creative Heritage Studies, Universitas Ciputra mengharapkan warisan budaya menjadi sebuah sumber daya umum yang bisa dikelola bersama-sama untuk tujuan pelestarian di kondisi dunia yang semakin modern.

Baca juga: Kepikiran Memulai Bisnis Kreatif Dari Awal? Siapa Takut!

Kolaborasi antara budaya Aborigin dengan model pakaian modern menunjukkan briliannya sebuah eksplorasi budaya yang bisa terus digali tak henti-hentinya. Claire pun melihat nantinya akan ada banyak hal baru yang Darwin Aboriginal Art Fair bisa dikembangkan bersama seniman-seniman Aborigin mereka.

Berbicara mengenai budaya memang sangat menarik, apalagi saat melihat dimana budaya lokal bisa bersanding atau bahkan berkolaborasi dengan budaya global. Tren local but global menjadikan budaya lokal menjadi semakin asyik untuk dieksplorasi ya!

loading...