Film Review: Mia and The White Lion

0
33
film

Film yang tayang mulai 23 Februari 2019 di bioskop ini bisa menjadi list tontonanmu. Genre adventure, drama dan kekeluargaan dikemas dengan baik dalam film ini. Kamu juga akan dimanjakan dengan keindahan Padang Savana di Afrika Selatan. Untuk kamu yang menyukai binatang, Mia and The White Lion menjadi list yang wajib ditonton. Kamu juga bisa menontonnya dengan keluarga loh.

Sinopsis: Mia and Charlie

Mengisahkan tentang seorang gadis muda bernama Mia Owen (Daniah De Villiers) asal London yang pindah ke Afrika dan menjalin persahabatan dengan seekor singa putih bernama Charlie.

Mia telah menjalin persahabatan dengan Charlie sejak ia berusia 11 tahun, saat itu Charlie lahir di peternakan milik keluarganya di Afrika Selatan. Mia pun menjalani hari-harinya dengan Charlie dan menjadikan sahabatnya. Karena Charlie sama sekali tidak menunjukan sikap agresif dan menyerang.

Tidak bertahan lama, ketika Mia berusia 14 tahun, Charlie yang masih termasuk singa muda, telah berubah menjadi singa putih gagah dengan ukuran tubuh yang besar.

Baca juga: Uninstall BukaLapak, Muncul LupaBapak, TutupLapak

Karakter dan penjiwaan Daniah De Villiers Sebagai Mia Owen

Film yang mengangkat tema persahabatan manusia dengan hewan ini cukup menarik. Meskipun film seperti ini bukanlah yang pertama. Dalam film ini, Daniah de Villiers berakting dengan sangat baik. Tidak ada rasa takut atau cemas yang ditunjukkan selama film berlangsung. Seperti pada adegan Charlie yang sudah semakin besar namun Mia tetap terus bermain dengan Charlie, walaupun tangannya mendapatkan sedikit cakaran akibat kuku Charlie. Mulai dari memeluk, mencium, dan berjalan bersama Charlie tidak ada rasa canggung dan takut bagi Daniah.

Pemilihan pemaran utamanya sangat tepat. Pada mulanya, sutradara dan kru sempat kesulitan mencari karakter Mia Owen ini. Kebetulan Daniah de Villiers adalah remaja asal Afrika Selatan yang memang sudah terbiasa berinteraksi dengan singa. Selain itu, film ini dibuat selama 3 tahun untuk membangun chemistry para pemain dengan hewan-hewan yang terlibat dalam film ini.

Banyak hal yang tidak diselesaikan dengan jelas

Pada awal film akan dimulai dengan kemarahan Mia terhadap ayahnya. Mia yang harus pindah dari London membuatnya tidak memiliki teman. Di sekolah pun Mia sering bermasalah dengan teman-temannya. Hal ini tidak dijelaskan dengan urut dan terkesan gantung. 

Pada saat Mia yang awalnya tidak menyukai Charlie sampai pada akhirnya bersahabat juga tidak ditampilkan alasan pastinya. Mia memang sedang membutuhkan teman bermain dan Charlie hadir untuk menemani Mia. Konflik yang agak bias membuat kamu akan bertanya-tanya. Namun, kebingungan kalian akan terhapus dengan keluwesan para pemain dan juga keindahan Afrika Selatan.

Baca juga: Bude Sumiyati Kini Go Internasional Hingga Korea

Banyak pelajaran dan pengetahuan baru dari film ini

Pada akhir film ini ada pesan yang disampaikan oleh penulis bahwa masih banyak para pemburu yang menjadikan singa bukan hanya sebagai target untuk dipanah atau ditembak, tetapi juga sebagai piala prestasi yang patut dibanggakan. Film ini juga memunculkan sisi gelap dari peternakan singa yang ada di Afrika Selatan. Demi kelangsungan hidup, para peternak malah menjual singa-singa yang seharusnya dijaga sebagai spesies langka. Kalian mungkin sempat kesal dan nggaktega ketika melihat singa yang dijual lalu ditembak tanpa rasa bersalah. Setelah itu, dengan bangganya para hunters berfoto dengan singa yang tak berdaya itu. Sungguh ironis!

Mia and The White Lion juga memberikan pelajaran baru bahwa hewan juga dapat dijadikan teman bahkan sahabat. Mia mengajarkan bahwa hewan buas bisa dijinakkan dengan kasih sayang dan kelembutan. Melihat kondisi sekarang, banyak hewan yang diperlakukan secara kasar dan sadis. Namun,  film ini menunjukkan kalau hewan juga membutuhkan bahkan harus diperlakukan selayaknya manusia. Hewan juga makhluk hidup ya, Sahabat Pagi.

Baca juga: Satelit Nusantara Satu Milik Indonesia. Ini Faktanya

loading...