Inilah Perbedaan Pemalu, Introvert, dan Kecemasan Sosial

0
104
pemalu
Pemalu, introvert, atau pengidap kecemasan sosial? Terkadang kegelisahan tersebut sering sekali dirasakan bagi kamu yang memiliki sifat pasif dalam lingkungan sosial.
Apakah kamu takut menjadi bahan perhatian orang lain? Atau kamu takut berbicara di hadapan banyak orang? Mungkinkah kamu pernah merasakan bahwa kamu lebih membutuhkan waktu sendiri? Atau kamu selalu merasa cemas akan penilaian orang lain terhadapmu? Yuk, kita ulas berikut ini!
  1. Rasa malu ialah sifat kepribadian seseorang

pemalu

Rasa malu merupakan bagian dari kepribadian seseorang. Menurut Social Anxiety Institute, orang yang pemalu kemungkinan memiliki kecemasan sosial, tapi gak semua orang dengan gangguan kecemasan sosial adalah seorang pemalu atau introvert. Penelitian menunjukkan bahwa kurang dari 25 persen orang yang pemalu juga memiliki gangguan kecemasan sosial.
Rasa malu cenderung muncul dalam situasi tertentu, tetapi gejala kecemasan sosial tetap ada dalam setiap kondisi. Kriteria diagnosis yang dicatat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), hal tersebut bisa terjadi selama enam bulan atau lebih. Dan gejalanya, biasanya muncul setiap hari.

Baca juga: Staycation Akhir Tahun? Siapa Takut

Perbedaan lainnya adalah rasa malu gak selalu mengarah pada self-criticism. Orang yang pemalu gak melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang negatif, dan tergantung dari setiap individu itu sendiri. Namun, mereka yang memiliki kecemasan sosial, cenderung lebih mudah menyesali sesuatu yang ada pada diri mereka. Rasa malu bisa memicu gagasan dan perilaku cemas, tetapi itu normal. Serta bukan diagnosis yang dapat mengganggu kualitas hidup si penderita.
  1. Introvert merupakan energi sosial

pemalu

Introvert sangat bertolak belakang dengan rasa malu dan kecemasan sosial. Rasa malu memengaruhi cara seseorang berinteraksi secara sosial, dan introvert adalah suatu energi yang gak bisa dipisahkan dari orang tertentu. Introvert didapatkan melalui waktu yang dihabiskan sendirian, sementara ekstrovert mendapatkan energi dari berinteraksi dengan orang lain.  Seorang introvert, selalu menghapus stimulan sosialnya agar tetap bersemangat dan bahagia, dan biasanya introvert mudah lelah ketika bersosialisasi.
Seorang introvert bisa saja menolak undangan pesta, tetapi seseorang dengan kecemasan sosial akan merasa kecewa pada dirinya sendiri, khawatir tentang apa yang orang akan pikirkan tentang ketidakhadiran mereka diacara tersebut.

Baca juga: Travelling Impian 2019, Siapkan Koper dan Paspormu

Psikolog Ellen Hendrikson menjelaskan bahwa introvert adalah suatu sifat, dari kepribadian bawaan. Tapi, orang dengan kecemasan sosial terbentuk bukan dari bawaan lahir, melainkan banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk lingkungan dan pemikiran.

  1. Kecemasan sosial merupakan gangguan mental

pemalu

Gejala kecemasan sosial lebih parah daripada perilaku pemalu atau introvert. Kecemasan sosial menimbulkan banyak ketakutan, ketidaknyamanan, kritik diri, dan kesadaran diri dalam situasi sosial. Yang juga dikenal sebagai fobia sosial, yang merupakan rasa takut, malu atau penghinaan dalam situasi sosial. Di titik ini, pengidap kecemasan sosial cenderung menghindari situasi tersebut, atau menanggungnya dengan beban yang berat, hingga berujung depresi, seperti yang dikatakan Social Anxiety Institute.

Kecemasan sosial merupakan gangguan mental yang mengerikan, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial. Jadi, bagaimana cara mengetahui jika seseorang mengidap kecemasan sosial? Untuk mengetahui apakah seseorang itu harus mendapatkan dukungan profesional atau tidak.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) memberikan uraiannya sebagai berikut:

  1. Ditandai dengan rasa takut atau kecemasan tentang satu atau lebih situasi sosial di mana seseorang takut diawasi dan dinilai orang lain. Biasanya gejala tersebut berlangsung selama 6 bulan atau lebih.
  2. Ketakutan bertindak atau melakukan sesuatu karena cemas jika dievaluasi secara negatif oleh orang lain. Pada anak-anak, kecemasan terjadi ketika anak berada di antara teman sebayanya dan bukan hanya terjadi pada orang dewasa saja.
  3. Dalam situasi sosial selalu dihantui ketakutan dan kecemasan.
  4. Menghindari situasi sosial atau mengalami rasa takut yang intens.
  5. Ketakutan atau kecemasan yang dipikirkan gak sesuai dengan realita yang sebenarnya.

Baca juga: Kebersamaan Umat Kristiani di Bulan Desember

Jika kamu merasakan gejala-gejala tersebut, penting untuk diingat bahwa kamu gak sendirian. Dan kamu bisa memercayakan pada orang terdekat atau berkonsultasi pada yang lebih profesional.

loading...